Sejarah ESB

Sejarah Awal

Grove Street Hooligans Grove Street Hooligans (GSH)

East Side Brandals (ESB) lahir dari sebuah ancaman besar yang mengguncang stabilitas Kota Indopride. Semua bermula dari pembubaran paksa kelompok gangster legendaris Grove Street Hooligans (GSH), sebuah nama yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kekuatan dan dominasi jalanan.

Operasi besar-besaran yang dilakukan oleh Kepolisian Indopride menargetkan para sesepuh serta struktur inti GSH, hingga akhirnya organisasi tersebut runtuh dan tercerai-berai.

Namun, runtuhnya GSH tidak serta-merta memadamkan api perlawanan. Dari sisa-sisa anggota yang masih bertahan, tumbuh tekad kuat untuk kembali bangkit dan mempertahankan eksistensi mereka di kerasnya kehidupan jalanan. Dengan semangat baru dan identitas yang berbeda, para mantan anggota GSH sepakat untuk membangun sebuah kelompok baru—sebuah simbol kebangkitan yang kelak dikenal sebagai East Side Brandals.

East Side Brandals

East Side Brandals East Side Brandals (ESB)

Pada tanggal 11 Maret 2023, kelompok gangster Indopride bernama East Side Brandals (ESB) resmi terbentuk dengan Dress Code berwarna Kuning nya. Dengan jumlah anggota yang masih sangat terbatas, ESB diisi oleh nama-nama yang tersisa dari masa kelam pasca pembubaran GSH, di antaranya Oliver Seth (DRAX), Pablo, Efilop, Nakky, Theo, Nonox, dan Pram Wu.

Kelompok ini dipimpin oleh Real OG Zota sebagai ketua, dengan Tapir sebagai tangan kanan sekaligus pendamping setia dalam menentukan arah dan strategi.

Inilah awal perjalanan ESB sebuah perjuangan panjang untuk bertahan hidup, membangun kembali kekuatan, dan menancapkan pengaruh di jalanan Kota Indopride yang tak pernah memberi ampun.

Konflik dengan Bikers

Seiring mulai dikenal dan berkembangnya nama East Side Brandals, gesekan dengan kelompok lain pun tak terhindarkan. Konflik besar pertama ESB terjadi ketika wilayah operasional mereka bersinggungan langsung dengan Indopride Motorcycle Club (IMC), sebuah kelompok bikers yang juga mengklaim kekuasaan atas beberapa area strategis di kota.

Persaingan tersebut dengan cepat berubah menjadi konflik terbuka. Bentrokan jalanan, perebutan wilayah, serta aksi balas dendam menjadi bagian dari keseharian ESB. Peperangan yang seolah tak berujung ini menguji mental, loyalitas, dan solidaritas setiap anggota—memaksa mereka memahami bahwa bertahan di Indopride berarti selalu siap menghadapi perang.

Hingga pada titik di mana peperangan tak kunjung menemui akhir, Oliver Seth (DRAX) mengambil langkah berani. Ia memutuskan untuk berbicara langsung dengan pihak IMC sebagai perwakilan resmi ESB, demi mencari jalan keluar dari konflik yang hanya membawa kehancuran. Dalam pertemuan tersebut, DRAX mengambil keputusan besar: mengajukan inisiasi perdamaian untuk mengakhiri perang yang tak pernah selesai.

Namun, IMC menetapkan syarat berat. Mereka meminta agar inisiasi tersebut ditentukan melalui satu peperangan besar terakhir. Jika ESB kalah, maka DRAX harus menerima konsekuensinya menjadi tukang bersih-bersih di garasi Perumnas, markas tongkrongan IMC.

Saat perang besar inisiasi itu terjadi, ESB harus mengakui kekalahannya. Kekalahan tersebut memaksa DRAX menepati janji dan menjalani hukuman sebagai tukang bersih-bersih di garasi Perumnas. Peristiwa ini menjadi tamparan paling keras bagi seluruh anggota ESB sebuah pelajaran pahit yang menyadarkan mereka bahwa kelemahan hanya akan membawa kehinaan.

Sejak saat itu, tekad untuk memperkuat keanggotaan dan solidaritas internal ESB semakin membara.

Pengkhianatan Internal

Di tengah tekanan eksternal yang belum sepenuhnya reda, East Side Brandals justru diguncang oleh konflik dari dalam. Real OG Zota, sosok yang selama ini memimpin dan menjadi simbol kebangkitan ESB, melakukan pengkhianatan besar. Tanpa sepengetahuan sebagian besar anggota, Zota memilih meninggalkan East Side Brandals dan bergabung dengan The Chief Indopride (TIC).

Keputusan tersebut meninggalkan luka mendalam. Kepercayaan runtuh, struktur kepemimpinan goyah, dan loyalitas setiap anggota kembali diuji. Namun dari pengkhianatan itu, ESB memetik satu pelajaran penting: bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada satu nama, melainkan pada mereka yang memilih untuk tetap bertahan.

Dengan kepemimpinan yang dilanjutkan oleh Tapir sebagai pengganti, East Side Brandals melanjutkan perjalanannya dengan identitas baru lebih keras, lebih waspada, dan lebih siap menghadapi pengkhianatan maupun musuh di jalanan Kota Indopride.

Setelah pengkhianatan Zota, Tapir mengambil alih kepemimpinan East Side Brandals. Di bawah arahan Tapir, ESB mulai membangun kembali struktur organisasi dan memperkuat solidaritas antar anggota. Tapir menekankan pentingnya loyalitas, disiplin, dan kerja sama dalam menghadapi tantangan yang ada.

Tapir juga memperluas jaringan aliansi dengan kelompok-kelompok lain di Indopride, guna memperkuat posisi ESB di kancah gangster kota. Dengan strategi baru dan semangat yang diperbarui, East Side Brandals berusaha untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah kerasnya persaingan jalanan.

Kamen Rider

East Side Brandals East Side Brandals (ESB)

Melihat ancaman yang semakin kompleks dan konflik jalanan yang tak lagi bisa dihadapi dengan cara lama, salah satu anggota dari esb yaitu Lucas Zhou (Simon) menggagas pembentukan pasukan elite internal sebuah unit kecil, disiplin, dan tanpa kompromi. Dari orang orang yang terpilih lahirlah pasukan terbaik ESB yang kemudian dikenal dengan nama Kamen Raider.

New Leadership

Setelah menjabat kurang lebih lima bulan sebagai Real OG, Tapir akhirnya mengambil keputusan besar: pensiun dari kursi kepemimpinan. Keputusan itu bukan tanda kelemahan, melainkan langkah terhormat untuk menjaga stabilitas ESB. Dengan pertimbangan matang, Tapir menunjuk Son Myers, yang dikenal dengan nama Brave, sebagai Real OG selanjutnya.

Di bawah kepemimpinan Brave, East Side Brandals memasuki babak baru. Brave membawa gaya kepemimpinan yang tegas namun merangkul menggabungkan ketegasan lapangan dengan visi jangka panjang. Ia memperkuat struktur organisasi yang telah dibangun Tapir, memperjelas rantai komando, serta menanamkan disiplin yang konsisten di setiap lini.

Brave juga memberi ruang bagi regenerasi. Ia mendorong kaderisasi, mengangkat potensi anggota muda, dan memastikan setiap keputusan strategis berpijak pada kepentingan bersama. menjadikan mereka garda terdepan sekaligus penyeimbang dalam menjaga wilayah dan kehormatan ESB.

Setelah seluruh tugas dan amanah kepemimpinannya diselesaikan dengan tuntas, Brave akhirnya mengambil langkah yang sama terhormat seperti para pendahulunya. Ia mengundurkan diri dari jabatan Real OG, bukan karena tekanan, melainkan karena keyakinan bahwa ESB membutuhkan energi dan arah baru untuk melangkah lebih jauh.

Dengan pertimbangan matang dan kesepakatan internal, Brave kemudian menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Oliver Seth, sosok yang dikenal dengan nama DRAX.

ERA KEPEMIMPINAN DRAX

East Side Brandals Oliver Seth GHO (DRAX)

Di awal era kepemimpinan DRAX, East Side Brandals justru menghadapi masa tergelap dalam sejarah mereka. Belum genap kepemimpinan itu mengakar, konflik besar meledak hampir bersamaan. Empat kelompok kota melancarkan serangan terkoordinasi dalam satu malam, menjadikan kawasan East Side medan perang yang tak mengenal jeda.

Tekanan datang dari segala arah. Wilayah tergerus, jalur komunikasi terputus, dan rasa aman runtuh dalam hitungan jam. Banyak anggota ESB yang gugur secara mental—bukan karena kurang berani, tetapi karena situasi yang terlalu berat untuk ditanggung. Satu per satu memilih mundur, menyerah, dan meninggalkan East Side demi keselamatan diri dan memilih bergabung dengan kelompok GHO GANG.

Di saat keadaan terasa tak terelakkan, DRAX sebagai pemimpinpun berada di titik terendahnya. Beban tanggung jawab yang terlalu besar, ditambah kehilangan orang-orang kepercayaan, hampir mematahkan keyakinannya. Dalam keheningan malam yang kacau, ia sempat berpikir untuk meninggalkan ESB dan mencari perlindungan dengan bergabung ke GHO GANG, sekadar untuk bertahan hidup.

Namun keputusan itu tak pernah benar-benar terwujud.

Di tengah keraguan tersebut, DRAX melihat anggota-anggota yang masih bertahan mereka yang terluka, kelelahan, dan tersisa sedikit jumlahnya, tetapi tetap berdiri. Tidak ada tuntutan, tidak ada paksaan. Hanya satu hal yang terpancar dari mereka: kepercayaan. Kepercayaan bahwa ESB masih punya pemimpin, dan pemimpin itu adalah DRAX.

Untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh mereka yang pergi, Maung (Akid) mengambil peran krusial. Dengan jaringan dan pengaruh yang ia miliki, Maung membawa pasukan baru orang-orang yang datang bukan karena nama besar ESB, melainkan karena keyakinan akan kebangkitannya. Di antara mereka hadir nama-nama seperti Daniel, Freyor, Baplang, Paco, dan beberapa lainnya, masing-masing dengan latar belakang berbeda, namun satu tujuan yang sama: berdiri di East Side dan bertahan.

Masuknya darah baru ini bukan sekadar menambah jumlah. Mereka ditempa langsung di tengah tekanan, belajar disiplin dari hari pertama, dan memahami bahwa bergabung dengan ESB di masa itu berarti siap menghadapi risiko tanpa jaminan kemenangan. DRAX menyambut mereka dengan satu pesan sederhana namun tegas: ESB tidak menjanjikan keamanan yang ada hanya kehormatan dan kebersamaan.

Perlahan, kekosongan mulai terisi. Struktur yang sempat rapuh kembali bernapas. Anggota lama dan baru dipersatukan oleh pengalaman yang sama bertahan saat kondisi terburuk. Dari sinilah ESB mulai membangun ulang fondasinya, lebih keras, lebih waspada, dan jauh lebih siap menghadapi apa pun yang akan datang.

Sebagai penanda lahirnya era baru, DRAX kemudian mengambil sebuah keputusan simbolis namun bermakna besar. Ia memutuskan untuk mengganti warna baju identitas ESB, dari kuning—warna lama yang sarat sejarah menjadi ungu, warna yang melambangkan keteguhan, kebangkitan, dan kekuatan yang lahir dari penderitaan.

Dan sejak hari itu, ESB tidak lagi berdiri di atas masa lalu, melainkan di atas kesetiaan mereka yang datang ketika harapan nyaris habis.

ARYA FAMS

East Side Brandals East Side Brandals (ESB)

Dari penggabungan anggota lama yang bertahan di masa kelam dan anggota baru yang datang di saat ESB nyaris runtuh, lahirlah satu kesepahaman yang tak perlu banyak kata. Mereka mempersatukan tujuan: membangun kembali pondasi ESB agar jauh lebih kuat, mampu menahan gempuran dari kelompok mana pun yang mencoba merobohkannya.

Ikatan itu bukan sekadar strategi, melainkan keluarga. Untuk menandai babak baru tersebut, mereka menamai diri mereka Arya Fams sebuah simbol persaudaraan tanpa memandang latar belakang, masa lalu, atau siapa yang datang lebih dulu. Yang dihitung hanyalah satu hal: siapa yang bertahan dan berjuang bersama.

Sebagai Arya Fams, mereka bergerak dengan satu visi dan satu napas. Anggota lama menjadi penopang nilai dan sejarah, sementara anggota baru membawa semangat, tenaga, dan keberanian tanpa beban masa lalu. Di bawah arahan DRAX, Arya Fams menjadi inti pertahanan ESB barisan pertama yang berdiri saat ancaman datang, dan barisan terakhir yang mundur saat situasi benar-benar aman.

Sejak saat itu, East Side Brandals tak lagi rapuh seperti sebelumnya. Dengan Arya Fams sebagai fondasi, ESB menjelma menjadi kekuatan yang lebih solid, lebih terorganisir, dan jauh lebih sulit digoyahkan.

Inilah awal era keemasan ESB masa ketika mereka berdiri tanpa rasa gentar, menatap siapa pun yang datang sebagai ujian, bukan ancaman. Mereka tidak hidup dari ketakutan lawan, tetapi dari kepercayaan satu sama lain.

Di jalanan, nama ESB kembali diucapkan dengan hati-hati. Bukan karena jumlah mereka, melainkan karena keteguhan dan persatuan yang tak bisa dipatahkan. Selama Arya Fams masih berdiri dan East Side masih dijaga, ESB akan terus melangkah tanpa mundur, tanpa ragu, menghadapi siapa pun yang mencoba menghalangi.